Bahaya Nomophobia
Nomofhobia atau No-mobile-phone phobia dalam Bahasa
inggris adalah suatu sindrom, ketakutan jika tidak mempunyai telephone genggam
istilah ini pertama muncul pada tahun 2010 di Britania raya oleh You Gou, dalam study ditemukan sebanyak
58% Pria dan 47 % perempuan yang menggunakan telepon genggam, merasa tidak
nyaman ketika mereka kehilangan telepon genggam. Kebiasaan ini sering terjadi
karena kehabisan baterai atau pulsa dan bisa juga di karena berada di luar
jangkauan jaringan seluler dan 9% selebihnya merasa stress katika telepon
genggam mereka mati, selebihnya mengatakan bahwa. Mereka merasa gelisah karena
tidak bisa berhubungan dengan teman dan keluarga kalau tidak menggunakan
telepon genggam atau smartphone.
Di Indonesia sendiri istilah ini
masih belum banyak orang yang mengetahui, dan belum banyak orang juga yang tau
akan dampak dari syndrome ini dalam penelitian yang di lakukan oleh Yudianto
(2017) mengatakan sebanyak 144 orang (67,9%) mengalami moderator nomophobia. Hal
ini sangat berhubungan dengan banyaknya remaja yang mengalami masalah tidur
yang di sebabkan oleh ketergantunganya dalam menggunakan smartphone khususnya bagi kalangan generasi milenial yang
mana kesehariannya menggunakan smartphone
untuk bermain game online dan masalah ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Gaulty (2010) dalam ana
(2016) bahwa ditemukanya intensitas pengguanaan internet yang sedang (10-40
jam/ bulan) sebanyak 47,4 % mengalami kualitas tidur yang baik dan intensitas
penggunaan interner yang tinggi (>40 jam/bulan) sebanyak 2,7% mengalami
kualitas tidur yang buruk.
Selain dapat mengakibatkan kualitas
tidur kita terganggu dalam penggunaan Smartphone ini bisa mengganggu
dalam aktivitas belajar khususnya bagi anak – anak pelajar yang mana dapat
menghabiskan waktu belajarnya dengan bermain game, chat dengan teman atau
bahkan menonton video ini sangat berpengaruh dalam masa perkembangan dalam
belajar bagi anak – anak. Adapun dalam sebuah study di America mengemukakan
aktivitas yang dilakukan oleh Anak laki-laki, aktivitansya dalam penggunaan smartphone
yaitu dilakukan untuk bermain game (85%) , mengerjakan tugas sekelah (68%),
mendengarkan music (66%) dan
messaging (63%). Sedangakan bagi anak perempuan sadalah mengerjakan tugas sekolah (75%). Instan
messaging (68%) dan mendengarkan musik (65%).
Ketergantungan
dalam penggunaan Smartphone ini juga dapat mengakibatkan terjadinya
gangguan pada kejiwaan seseorang, seperti yang di kabarkan dari Suara.com
seorang pria berinisal W yang mana dia tidak dapat menghentikan jari tangannya
seolah-olah sedang menggenggam gadgget serta tidak bisa berkomunikasi dan merespon
orang di sekitarnya. Matanya selalu tertuju menatap kedua tangannya yang terus
bergerak seperti sedang bermain gadget sehingga mengharuskannya tinggal di tempat
rehabilitasi. Dalam era milenial ini
dimana semua masyarakat menjadikan smatphone adalah kebutuhan primer yang mana setiap orang
tidak dapat melepaskan smartphone dari segala aktivitas kehidupannya
sehari-hari, apalagi bagi para remaja yang mana mereka selalu menganggap bahwa
dunia maya adalah surganya bagi mereka karena disana mereka dapat mengeluarkan
imajinasinya khususnya dalam sebuah game
yang sudah berkembang dalam teknologi smartphone. Bahkan beberapa
orang tua sengaja memeberikan anak mereka gadget asalkan mereka bisa
senang dengan dunianya sendiri dan tidak mengganggu kegiatan mereka.
Kesalahan
pola asuh yang diberikan oleh orang tua dapat mempengaruhi kebiasaan yang akan
di lakukan oleh anaknya, maka dari itu bagi orang tua yang biasa memberikan smartphone
bagi anaknya sebaiknya tidak diberikan hak miliki kepada mereka karena kalau
kita memberikan hak miliki kepadanya apalagi kalau di bawah umur 12 tahun itu
akan menghambat tumbuh kembang otak, mental bahkan fisiknya. Ketika kita
memberikan Smartphone kita maka harus bisa mengawasi dan mengontrol
penggunaannya jangan sampai anak anda itu mengalami kecanduan dalam penggunaan smartphone,
serta jangan membiasakan memberikan Smartphone kepada anak balita karena
itu sangat tidak baik untuk masa perkembangan balita tersebut.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Dokter
anak di America dan perhimpunan dokter Anak Kanada mengatakan bahwa anak umur
0-2 tahun tidak boleh terpapar oleh teknologi sama sekali. Anak umur 3-5 tahun
dibatasi menggunakan teknologi hanya satu jam perhari. Dan anak umur 6-1 tahun
di batasi 2 jam perhari. Anak – anak
yang menggunakan teknologi melebihi batas waktunya akan mengalami massal yang
sangat serius dalam perkembanganya. Karena dalam penggunaan smartphone yang
begitu lama bagi anak-anak akan membuatnya kesulitan dalam bersosial dengan
teman sebayanya itu di sebabkan karena
anak akan menganggap bahwa dunia maya lebih seru dari pada dunia sekitar selain
itu si anak akan lupa terhadap waktu yang mana si anak lupa soal makan yang
dapat menyebabkan masalah dalam
kebutuhan nutrisi sampai bisa mengakibatkan kematian dan biasanya hal ini terjadi pada orang tua
yang terlalu bergangtung pada teknologi yang mana dipercayai dapat membuat anak
bahagia.
Sedangkan bagi orang dewasa bisanya
menggunakan smartphonenya selain
untuk membuka email kerja selalu digunakan untuk berkomunikasi dengan antar
teman, lalu membuka aplikasi media seperti Facebook, instagram,Twitter
dan fotot yang mereka unggah dalam media sosisal yang mana menunjukan stylish
dalam kehidupan mereka ini karena smartphone diyakini dapat menyimpan semua kenangan dalam
kehidupan maka dari itu ketergangtungan terhadap smartphone di kalangan
orang dewasa semakin meningkat dan hal ini lah yang nantinya kalau di biarkan
akan bertambah menjadi parah.
Dalam study yang dimuat dalam artikel yang
berjudul candu generasi milenial dalam penelitaian yang dilakukan oulavirta
mengatakan bahwa orang-orang dewasa mengecek smartphonenya sebanyak 34x
dalam sehari. Bukan untuk kerperluan memeriksa email atau menjalankan aplikasi
yang lain namun merupakan kebiasaan untuk menghindari rasa tidak nyaman. Kecanduan
smartphone juga dapat disebabkan oleh beberapa factor yang dapat
memepengaruh kehidupan seseorang baik bagi kalangan anak-anak, remaja bahkan
dewasa yaitu:
·
Faktor internal
Faktor ini yang menyangkut karakteristik individu, disebabkan kontrol diri
yang rendah.
·
Faktor situasional
Faktor ini menyangkur pada situasi psikologis individu, rasa nyaman
terahadap pemakaian smartphone dan alasan perlarian gangguan lain
seperti stres dan rasa bosan.
·
Faktor eksterenal
Pengaruh media dalam pemasaran daya tarik, kondisi lingkungan dan bisanya
bagi para remaja mengutamakan dalam Stylish.
·
Faktor sosial
Berkenaan
dengan interaksi sosial dan menjebol batas waktu untuk berkomunikasi.
Jika
sudah semakin parah seseorang yang telah terkena nomophobia akan memiliki tanda
dan gela seperti
1. Sealu dalam
kekhawatiran dan tidak nyaman saat keluar tidak membawa smartphone.
2. Selalu cemasa dalam meletakan/menyimpan
smartphoennya sehingga di selalu meletakan smarphonenya di dekatnya
contohnya ketika tidur dia selalu
meletakan smartphonya di
pinggirnya.
3. Selalu membawa smartphonya
kemanapun dia pergi, seperti ke
kamar mandi.
4. Kebiasaan tidur
tidak bisa jauh dari smartphonen-nya.
5. Merasa
khawatir saat baterai ponsel akan habis, tidak ada jaringan, tidak ada pulsa.
6. Selalu
mengecek smartphone walau tidak ada notification apapun.
7. Merasa tidak
nyaman saat tidak bisa mengakses smartphone.
8. Selalu
mengecek smartphone hanya untuk melihat sesuatu yang update di media
social.
9. Sulit untuk
bersosialisasi dan berkomunikasi di dunia nyata, lebih suka berkomunikasi
melalui media social.
Bagi kita yang mungkin telah terkena atau
ada tanda – tanda dari nomophobia tidak usah khawatir hal itu dapat diatasi dengan cara sebagai
berikut:
1) Sadar dan
control diri
Sadar akan diri kita sendiri, bahwa manusia bisa hidup
dengan tanpa smartphone karena kita telah lahir dari sejak jaman dahulu dimana
teknologi seperti smartphone itu belum ada dan control lah diri kita sendiri
dimana apapun yang berlebihan dalam hidup ini tidak baik untuk diri kita maka
gunakan lah smartphone itu sewajarnya.
2) Pertahankan
komunikasi nyata
Manusia adalah mahluk social dimana manusia diciptakan
untuk saling berinteraksi satu dengan yang lain, dengan cara berkomunikasi
nyata kita dapat mendapatkan teman karena manusia tidak bisa hidup sendiri, dan
manusia akan selalu membutuhkan orang lain dalam kehidupanya.
3) Hindari
melarikan diri dengan ponsel
Janganlah sekali – kali menjadika Smartphone itu bahan untuk pelarian diri yang mana ketika
kita sedang merasa stres, datangilah keluarga, teman atau shabat kalian ajaklah
mereka untuk mengobrol tentang masalah yang sedang di hadapi dan minta solusi
untuk penyelesaianya
4) Menghargai
lawan bicara dengan tidak melihat ponsel secara konstan
Pada saat kita berbicara cobalah kita melihat ke arah
wajah lawan bicara kita karena itu sama dengan kita mengahargai teman yang
sedang berbicara di depan kita cobalah kita focus selama dia mengajak kita
bicara janganlah sekali-kali kita memalingkan wajah kita pada saat berbicara
karena tindakan itu adalah tidak sopan.
Lalu bagaimana dengan keluarga kita yang telah terkena
mungkin kita bisa menggunakan beberapa metode diantaranya :
1. Jika sudah
tidur jauhkan ponsel
2. Memberitahukan
kepadanya untuk mematikan ponsel sejenak dan memngajaknya untuk berinteraksi
dengan lingkungan
3. Ajaklah
keluar untuk berlibur atau sekedar rekreasi karena dengan begitu mereka akan
membiasakan dirir untuk terjauh dari ponseknya.
4. Kita sebagai
keluarga harus bisa membantu untuk dalam kegitan yang dilakukanya agar kehidupanya
seimbang antar berponsel ( dunia maya) dengan kegiatan berkomunikasi dengan
orang lain di dunia nyata atau lingkungan sekitar.
Dengan
menggunkan beberapa metode yang diatas kita dapat menyelamatkan keluarga dan generasi
indonesia yang mana generasi milenial ini lebih mentingkan dunia teknologi untuk
kesenanganya dalam melampiaskan ke penatan yang ada di dunia nyata, semakin
majunya teknologi generasi kita semakin di nina bobokan maka dari itu kita sebagai
generasi yang penduli akan masa depan bangsa
ini haru bisa menyadarkan generasi – generasi yang talah terlelap dalam
dunianya.
No comments:
Post a Comment