Pages

Thursday, 8 August 2019

Bahaya Nomophobia bagi generasi indonesia

Bahaya Nomophobia


            Nomofhobia atau  No-mobile-phone phobia dalam Bahasa inggris adalah suatu sindrom, ketakutan jika tidak mempunyai telephone genggam istilah ini pertama muncul pada tahun 2010 di Britania raya  oleh You Gou, dalam study ditemukan sebanyak 58% Pria dan 47 % perempuan yang menggunakan telepon genggam, merasa tidak nyaman ketika mereka kehilangan telepon genggam. Kebiasaan ini sering terjadi karena kehabisan baterai atau pulsa dan bisa juga di karena berada di luar jangkauan jaringan seluler dan 9% selebihnya merasa stress katika telepon genggam mereka mati, selebihnya mengatakan bahwa. Mereka merasa gelisah karena tidak bisa berhubungan dengan teman dan keluarga kalau tidak menggunakan telepon genggam atau smartphone.

            Di Indonesia sendiri istilah ini masih belum banyak orang yang mengetahui, dan belum banyak orang juga yang tau akan dampak dari syndrome ini dalam penelitian yang di lakukan oleh Yudianto (2017) mengatakan sebanyak 144 orang (67,9%) mengalami moderator nomophobia. Hal ini sangat berhubungan dengan banyaknya remaja yang mengalami masalah tidur yang di sebabkan oleh ketergantunganya dalam menggunakan smartphone  khususnya bagi kalangan generasi milenial yang mana kesehariannya  menggunakan smartphone untuk bermain game online dan masalah ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh  Gaulty (2010) dalam ana (2016) bahwa ditemukanya intensitas pengguanaan internet yang sedang (10-40 jam/ bulan) sebanyak 47,4 % mengalami kualitas tidur yang baik dan intensitas penggunaan interner yang tinggi (>40 jam/bulan) sebanyak 2,7% mengalami kualitas tidur yang buruk.

            Selain dapat mengakibatkan kualitas tidur kita terganggu dalam penggunaan Smartphone ini bisa mengganggu dalam aktivitas belajar khususnya bagi anak – anak pelajar yang mana dapat menghabiskan waktu belajarnya dengan bermain game, chat dengan teman atau bahkan menonton video ini sangat berpengaruh dalam masa perkembangan dalam belajar bagi anak – anak. Adapun dalam sebuah study di America mengemukakan aktivitas yang dilakukan oleh Anak laki-laki, aktivitansya dalam penggunaan smartphone yaitu dilakukan untuk bermain game (85%) , mengerjakan tugas sekelah (68%), mendengarkan  music (66%) dan messaging (63%). Sedangakan bagi anak perempuan sadalah mengerjakan tugas sekolah (75%). Instan messaging (68%) dan mendengarkan musik (65%).

            Ketergantungan dalam penggunaan Smartphone ini juga dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pada kejiwaan seseorang, seperti yang di kabarkan dari Suara.com seorang pria berinisal W yang mana dia tidak dapat menghentikan jari tangannya seolah-olah sedang menggenggam gadgget  serta tidak bisa berkomunikasi dan merespon orang di sekitarnya. Matanya selalu tertuju menatap kedua tangannya yang terus bergerak seperti sedang bermain gadget  sehingga mengharuskannya tinggal di tempat rehabilitasi.  Dalam era milenial ini dimana semua masyarakat menjadikan smatphone  adalah kebutuhan primer yang mana setiap orang tidak dapat melepaskan smartphone  dari segala aktivitas kehidupannya sehari-hari, apalagi bagi para remaja yang mana mereka selalu menganggap bahwa dunia maya adalah surganya bagi mereka karena disana mereka dapat mengeluarkan imajinasinya khususnya dalam sebuah game  yang sudah berkembang dalam teknologi smartphone. Bahkan beberapa orang tua sengaja memeberikan anak mereka gadget asalkan mereka bisa senang dengan dunianya sendiri dan tidak mengganggu kegiatan mereka.

            Kesalahan pola asuh yang diberikan oleh orang tua dapat mempengaruhi kebiasaan yang akan di lakukan oleh anaknya, maka dari itu bagi orang tua yang biasa memberikan smartphone bagi anaknya sebaiknya tidak diberikan hak miliki kepada mereka karena kalau kita memberikan hak miliki kepadanya apalagi kalau di bawah umur 12 tahun itu akan menghambat tumbuh kembang otak, mental bahkan fisiknya. Ketika kita memberikan Smartphone  kita  maka harus bisa mengawasi dan mengontrol penggunaannya jangan sampai anak anda itu mengalami kecanduan dalam penggunaan smartphone, serta jangan membiasakan memberikan Smartphone kepada anak balita karena itu sangat tidak baik untuk masa perkembangan balita tersebut.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Dokter anak di America dan perhimpunan dokter Anak Kanada mengatakan bahwa anak umur 0-2 tahun tidak boleh terpapar oleh teknologi sama sekali. Anak umur 3-5 tahun dibatasi menggunakan teknologi hanya satu jam perhari. Dan anak umur 6-1 tahun di batasi  2 jam perhari. Anak – anak yang menggunakan teknologi melebihi batas waktunya akan mengalami massal yang sangat serius dalam perkembanganya. Karena dalam penggunaan smartphone yang begitu lama bagi anak-anak akan membuatnya kesulitan dalam bersosial dengan teman sebayanya  itu di sebabkan karena anak akan menganggap bahwa dunia maya lebih seru dari pada dunia sekitar selain itu si anak akan lupa terhadap waktu yang mana si anak lupa soal makan yang dapat menyebabkan masalah dalam  kebutuhan nutrisi sampai bisa mengakibatkan kematian  dan biasanya hal ini terjadi pada orang tua yang terlalu bergangtung pada teknologi yang mana dipercayai dapat membuat anak bahagia.

Sedangkan bagi orang dewasa bisanya menggunakan smartphonenya  selain untuk membuka email kerja selalu digunakan untuk berkomunikasi dengan antar teman, lalu membuka aplikasi media seperti Facebook, instagram,Twitter dan fotot yang mereka unggah dalam media sosisal yang mana menunjukan stylish dalam kehidupan mereka ini karena smartphone  diyakini dapat menyimpan semua kenangan dalam kehidupan maka dari itu ketergangtungan terhadap smartphone di kalangan orang dewasa semakin meningkat dan hal ini lah yang nantinya kalau di biarkan akan bertambah menjadi parah.

Dalam study yang dimuat dalam artikel yang berjudul candu generasi milenial dalam penelitaian yang dilakukan oulavirta mengatakan bahwa orang-orang dewasa mengecek smartphonenya sebanyak 34x dalam sehari. Bukan untuk kerperluan memeriksa email atau menjalankan aplikasi yang lain namun merupakan kebiasaan untuk menghindari rasa tidak nyaman. Kecanduan smartphone juga dapat disebabkan oleh beberapa factor yang dapat memepengaruh kehidupan seseorang baik bagi kalangan anak-anak, remaja bahkan dewasa yaitu:
·         Faktor internal
Faktor ini yang menyangkut karakteristik individu, disebabkan kontrol diri yang rendah.
·         Faktor situasional
Faktor ini menyangkur pada situasi psikologis individu, rasa nyaman terahadap pemakaian smartphone dan alasan perlarian gangguan lain seperti stres dan rasa bosan.
·         Faktor eksterenal
Pengaruh media dalam pemasaran daya tarik, kondisi lingkungan dan bisanya bagi para remaja mengutamakan dalam Stylish.
·         Faktor sosial
Berkenaan dengan interaksi sosial dan menjebol batas waktu untuk berkomunikasi.

            Jika sudah semakin parah seseorang yang telah terkena nomophobia akan memiliki tanda dan gela seperti
1.      Sealu dalam kekhawatiran dan tidak nyaman saat keluar tidak membawa smartphone.
2.      Selalu  cemasa dalam meletakan/menyimpan smartphoennya sehingga di selalu meletakan smarphonenya di dekatnya contohnya ketika tidur dia selalu  meletakan smartphonya  di pinggirnya.
3.      Selalu membawa smartphonya  kemanapun dia pergi, seperti ke kamar mandi.
4.      Kebiasaan tidur tidak bisa jauh dari smartphonen-nya.
5.      Merasa khawatir saat baterai ponsel akan habis, tidak ada jaringan, tidak ada pulsa.
6.      Selalu mengecek smartphone walau tidak ada notification apapun.
7.      Merasa tidak nyaman saat tidak bisa mengakses smartphone.
8.      Selalu mengecek smartphone hanya untuk melihat sesuatu yang update di media social.
9.      Sulit untuk bersosialisasi dan berkomunikasi di dunia nyata, lebih suka berkomunikasi melalui media social.

Bagi kita yang mungkin telah terkena atau ada tanda – tanda dari nomophobia  tidak usah khawatir  hal itu dapat diatasi dengan cara sebagai berikut:  
1)      Sadar dan control diri
Sadar akan diri kita sendiri, bahwa manusia bisa hidup dengan tanpa smartphone karena kita telah lahir dari sejak jaman dahulu dimana teknologi seperti smartphone itu belum ada dan control lah diri kita sendiri dimana apapun yang berlebihan dalam hidup ini tidak baik untuk diri kita maka gunakan lah smartphone itu sewajarnya.
2)      Pertahankan komunikasi nyata
Manusia adalah mahluk social dimana manusia diciptakan untuk saling berinteraksi satu dengan yang lain, dengan cara berkomunikasi nyata kita dapat mendapatkan teman karena manusia tidak bisa hidup sendiri, dan manusia akan selalu membutuhkan orang lain dalam kehidupanya.
3)      Hindari melarikan diri dengan ponsel
Janganlah sekali – kali menjadika Smartphone  itu bahan untuk pelarian diri yang mana ketika kita sedang merasa stres, datangilah keluarga, teman atau shabat kalian ajaklah mereka untuk mengobrol tentang masalah yang sedang di hadapi dan minta solusi untuk penyelesaianya
4)      Menghargai lawan bicara dengan tidak melihat ponsel secara konstan
Pada saat kita berbicara cobalah kita melihat ke arah wajah lawan bicara kita karena itu sama dengan kita mengahargai teman yang sedang berbicara di depan kita cobalah kita focus selama dia mengajak kita bicara janganlah sekali-kali kita memalingkan wajah kita pada saat berbicara karena tindakan itu adalah tidak sopan.

Lalu bagaimana dengan keluarga kita yang telah terkena mungkin kita bisa menggunakan beberapa metode diantaranya :
1.      Jika sudah tidur jauhkan ponsel
2.      Memberitahukan kepadanya untuk mematikan ponsel sejenak dan memngajaknya untuk berinteraksi dengan lingkungan
3.      Ajaklah keluar untuk berlibur atau sekedar rekreasi karena dengan begitu mereka akan membiasakan dirir untuk terjauh dari ponseknya.
4.      Kita sebagai keluarga harus bisa membantu untuk dalam kegitan yang dilakukanya agar kehidupanya seimbang antar berponsel ( dunia maya) dengan kegiatan berkomunikasi dengan orang lain di dunia nyata atau lingkungan sekitar.

      Dengan menggunkan beberapa metode yang diatas kita dapat menyelamatkan keluarga dan generasi indonesia yang mana generasi milenial ini lebih mentingkan dunia teknologi untuk kesenanganya dalam melampiaskan ke penatan yang ada di dunia nyata, semakin majunya teknologi generasi kita semakin di nina bobokan maka dari itu kita sebagai generasi yang penduli akan masa depan bangsa  ini haru bisa menyadarkan generasi – generasi yang talah terlelap dalam dunianya.

No comments:

Post a Comment